Penantian 11 Tahun Terbitnya Novel Baru Donna Tartt
Setiap novel yang ditulis Donna Tartt, dan sejauh ini baru ada 3, punya jarak penerbitan yang jauh antara satu dengan lainnya.
Novel pertama yang langsung melesatkan nama Tartt menjadi seorang penulis 'bintang', "The Secret History", terbit pada 1992. Novel keduanya, "The Little Friend", baru terbit satu dekade kemudian, pada 2002. Kini, 11 tahun setelahnya, barulah novel ketiga Tartt, "The Goldfinch" terbit.
Dengan jarak-jarak panjang seperti itu, tak heran bila setiap kali Tartt akan menerbitkan novel, industri buku dan para pembaca menantinya dengan antisipasi tinggi. Begitu pula dengan kehadiran "The Goldfinch". Jika "The Little Friend" mendapat penilaian yang kurang memuaskan, maka "The Goldfinch" kini memenuhi pengharapan tinggi para kritikus. Stephen King menyebut novel terbarunya ini sebuah 'kemenangan; dan 'sesuatu yang jarang, yang mungkin hanya datang beberapa kali setiap dekade, novel sastra yang terasa ke hati sekaligus juga ke pikiran.'
Fakta bahwa "The Goldfinch" memiliki 771 halaman seolah tak peduli dengan era internet yang melahirkan istilah 'too long; didn't read'. Harian New York Times bahkan menulis bahwa Tartt jarang sekali menggunakan internet. Jika ia menggunakannya, maka hampir pasti ia sedang mencari alamat sebuah restoran.
Bukan hanya novelnya yang butuh waktu penulisan lama, kemunculan Tartt di acara-acara publik pun termasuk jarang. Maka ketika ia muncul, gambaran akan sosoknya, seperti apa dia di hadapan publik, menjadi bagian dari tulisan. "Saking kayanya bacaannya, (Tartt) terkenal sering mengutip satu puisi secara lengkap atau paragraf panjang dari sebuah novel Prancis dalam akses Mississippi-nya," tulis Julie Bosman di New York Times.
Laura Miller di Salon menulis bahwa, berbanding terbalik dengan foto-foto dari penerbit yang menampilkan Tartt sebagai sosok 'keras', dia sebenarnya hangat dan penuh semangat.
"The Goldfinch" bercerita tentang seorang anak berusia 13 tahun bernama Theo Decker yang kehilangan ibunya karena aksi pengeboman teroris saat berkunjung ke Metropolitan Museum of Art. Decker kemudian membawa lari lukisan berjudul "The Goldfinch" karya seniman Belanda dari Carel Fabritius dari museum tersebut. Decker pun berpindah-pindah tempat, dari Las Vegas sampai ke Amsterdam, yang semuanya, menurut Emily Temple dari Flavorwire, digambarkan Tartt dengan sangat hidup.
"The Secret History" -- novel pertama yang membuat nama Tartt menjadi penulis yang dikagumi -- mencampur beberapa genre sekaligus. Ada kisah coming of age atau pendewasaan narator utamanya, ada sejarah mitologi Yunani dan mahasiswa yang mempelajari keindahan bahasa yang mati, ada persaingan cinta, persahabatan, dan rahasia di balik geng elite di sebuah kampus yang juga tak kalah elitenya. Dan pada akhirnya ada sebuah pengkhianatan besar. Membaca "The Secret History" menjadi sebuah perjalanan memuaskan ke setiap kelokan yang dibangun oleh Tartt dan membawa kita lebih dalam ke rahasia yang lebih besar lagi. Tak heran jika buku ini menjadi salah satu novel modern dengan status 'klasik' -- terus dikagumi, terus dibaca, dan masih populer.
Dengan berbagai resensi positif yang didapat "The Goldfinch", sepertinya buku ini akan meneguhkan Donna Tartt sebagai penulis novel-novel klasik modern.
Novel pertama yang langsung melesatkan nama Tartt menjadi seorang penulis 'bintang', "The Secret History", terbit pada 1992. Novel keduanya, "The Little Friend", baru terbit satu dekade kemudian, pada 2002. Kini, 11 tahun setelahnya, barulah novel ketiga Tartt, "The Goldfinch" terbit.
Dengan jarak-jarak panjang seperti itu, tak heran bila setiap kali Tartt akan menerbitkan novel, industri buku dan para pembaca menantinya dengan antisipasi tinggi. Begitu pula dengan kehadiran "The Goldfinch". Jika "The Little Friend" mendapat penilaian yang kurang memuaskan, maka "The Goldfinch" kini memenuhi pengharapan tinggi para kritikus. Stephen King menyebut novel terbarunya ini sebuah 'kemenangan; dan 'sesuatu yang jarang, yang mungkin hanya datang beberapa kali setiap dekade, novel sastra yang terasa ke hati sekaligus juga ke pikiran.'
Fakta bahwa "The Goldfinch" memiliki 771 halaman seolah tak peduli dengan era internet yang melahirkan istilah 'too long; didn't read'. Harian New York Times bahkan menulis bahwa Tartt jarang sekali menggunakan internet. Jika ia menggunakannya, maka hampir pasti ia sedang mencari alamat sebuah restoran.
Bukan hanya novelnya yang butuh waktu penulisan lama, kemunculan Tartt di acara-acara publik pun termasuk jarang. Maka ketika ia muncul, gambaran akan sosoknya, seperti apa dia di hadapan publik, menjadi bagian dari tulisan. "Saking kayanya bacaannya, (Tartt) terkenal sering mengutip satu puisi secara lengkap atau paragraf panjang dari sebuah novel Prancis dalam akses Mississippi-nya," tulis Julie Bosman di New York Times.
Laura Miller di Salon menulis bahwa, berbanding terbalik dengan foto-foto dari penerbit yang menampilkan Tartt sebagai sosok 'keras', dia sebenarnya hangat dan penuh semangat.
"The Goldfinch" bercerita tentang seorang anak berusia 13 tahun bernama Theo Decker yang kehilangan ibunya karena aksi pengeboman teroris saat berkunjung ke Metropolitan Museum of Art. Decker kemudian membawa lari lukisan berjudul "The Goldfinch" karya seniman Belanda dari Carel Fabritius dari museum tersebut. Decker pun berpindah-pindah tempat, dari Las Vegas sampai ke Amsterdam, yang semuanya, menurut Emily Temple dari Flavorwire, digambarkan Tartt dengan sangat hidup.
"The Secret History" -- novel pertama yang membuat nama Tartt menjadi penulis yang dikagumi -- mencampur beberapa genre sekaligus. Ada kisah coming of age atau pendewasaan narator utamanya, ada sejarah mitologi Yunani dan mahasiswa yang mempelajari keindahan bahasa yang mati, ada persaingan cinta, persahabatan, dan rahasia di balik geng elite di sebuah kampus yang juga tak kalah elitenya. Dan pada akhirnya ada sebuah pengkhianatan besar. Membaca "The Secret History" menjadi sebuah perjalanan memuaskan ke setiap kelokan yang dibangun oleh Tartt dan membawa kita lebih dalam ke rahasia yang lebih besar lagi. Tak heran jika buku ini menjadi salah satu novel modern dengan status 'klasik' -- terus dikagumi, terus dibaca, dan masih populer.
Dengan berbagai resensi positif yang didapat "The Goldfinch", sepertinya buku ini akan meneguhkan Donna Tartt sebagai penulis novel-novel klasik modern.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar